Skb Cpns 2020 : Metode Dan Model Pemanfaatan Fitur Rumah Mencar Ilmu Kemdikbud.Go.Id


METODE DAN MODEL PEMANFAATAN FITUR RUMAH BELAJAR

Metode Pemanfaatan Fitur Rumah Belajar


Strategi pembelajaran sanggup dikembangkan menjadi banyak sekali versi berdasarkan kreativitas pendidik maupun akseptor didik sendiri sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan pembelajaran. Berikut ini yaitu garis besar taktik pemanfaatan portal Rumah Belajar yang sanggup diterapkan dalam pembelajaran berbasis TIK tersebut.

1. Presentasi Klasikal/Demonstrasi


Motode pembelajaran ini biasa dilakukan dengan jumlah akseptor yang besar dalam suatu kelas dengan pendidik yaitu pusat dari kegiatan pembelajarannya. Metode ini dipakai untuk menjelaskan materi yang bersifat umum dan teoritis.

Tahapan-tahapan pembelajaran ini dengan memanfaatkan TIK, khususnya fitur-fitur pada portal Rumah Belajar, yaitu:


  1. Pendidik mencari dan mengunduh tumpuan materi dari portal Rumah Belajar yang sesuai dengan topik yang akan diajarkan di kelas.
  2. Pendidik melaksanakan presentasi materi sesuai topik pilihan.
  3. Media presentasi bisa berupa video, audio, multimedia, sesuai topik yang tersedia di portal Rumah Belajar.
  4. Perangkat yang dipakai sanggup berupa laptop, LCD Proyektor, speaker dan microphone.
  5. Peserta didik tidak harus memakai laptop secara individu selama pembelajaran.
  6. Peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya, menjawab, membantah, atau menanggapi dalam kegiatan diskusi.
  7. Pendidik menawarkan kiprah sebagai tindak lanjut kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.


2. Bimbingan dan Tutorial


Metode pembelajaran ini dilakukan untuk menjelaskan materi yang bersifat praktik dan pemahamannya memakai banyak sekali mekanisme yang dipersyaratkan semoga akseptor didik menguasai kompetensinya.

Tahapan-tahapan pembelajaran ini dengan memanfaatkan TIK, khususnya fitur-fitur pada portal Rumah Belajar, yaitu:


  1. Peserta didik membentuk kelompok dengan jumlah kelompok diubahsuaikan dengan jumlah laptop yang tersedia.
  2. Pendidik menyiapkan materi yang diperoleh dari portal Rumah Belajar yang akan dipakai dalam kegiatan pembelajaran.
  3. Pendidik menyiapkan alat dan media pembelajaran menyerupai laptop dan LCD Proyektor.
  4. Peserta didik mengikuti langkah-langkah berguru yang diinstruksikan oleh pendidik.
  5. Peserta didik diberi kiprah untuk mengeksplorasi materi secara berdikari dengan memakai fitur-fitur pada portal Rumah Belajar dengan kelompoknya masing-masing.
  6. Pendidik memonitor dan menawarkan bimbingan kepada akseptor didik yang mengalami kesulitan.
  7. Pendidik menawarkan respon dan apresiasi untuk semua hasil pekerjaan dan partisipasi akseptor didik dalam kegiatan pembelajaran.
  8. Pendidik menawarkan kiprah sebagai tindak lanjut kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.


3. Pembelajaran Individual


Metode pembelajaran individual bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akseptor didik secara berdikari perihal materi yang diberikan. Pembelajaran individual dipakai sebagai sarana penilaian pendidik berupa tugas.

Tahapan-tahapan pembelajaran ini dengan memanfaatkan TIK, khususnya fitur-fitur pada portal Rumah Belajar, yaitu:


  1. Pendidik menyiapkan kiprah secara tertulis dan diberikan kepada akseptor didik.
  2. Peserta didik sanggup mengerjakan kiprah individual di luar jam sekolah.
  3. Laptop bisa dipakai secara bergantian.
  4. Tugas yang sudah dikerjakan dimasukkan ke dalam satu folder
  5. Pendidik menyelidiki dan menawarkan respon untuk setiap kiprah secara tertulis (comment) pada file akseptor didik dan memberikannya kembali kepada akseptor didik.
  6. Peserta didik memperbaiki kiprah berdasarkan saran pendidik.
  7. Pendidik menawarkan apresiasi dan mempresentasikan tugas-tugas akseptor didik pada kesempatan pertemuan tatap muka.
  8. Pendidik menawarkan kiprah sebagai tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran.


4. Diskusi Kelompok Kecil


Metode diskusi kelompok kecil bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akseptor didik perihal materi yang diberikan pendidik melalui studi perkara yang terkait dengan materi serta sebagai sarana penilaian pendidik dalam kerja kelompok. Model yang bisa dipakai dengan metode ini yaitu Problem-Based Learning (PBL).

Tahapan-tahapan pembelajaran ini dengan memanfaatkan TIK, khususnya fitur-fitur pada portal Rumah Belajar, yaitu:


  1. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil sesuai jumlah laptop yang tersedia. Jika memungkinkan, jumlah anggota ideal tiap kelompok yaitu 3-5 akseptor didik.
  2. Pendidik  menyiapkan  topik  diskusi  berupa  sejumlah pertanyaan (masalah) yang jawabannya perlu dan bisa dicari di Rumah Belajar secara online maupun offline.
  3. Pendidik menawarkan instruksi langkah-langkah diskusi kelompok.
  4. Peserta didik melaksanakan diskusi sesuai instruksi mengenai topik yang telah diberikan. Salah seorang akseptor didik menjadi moderator diskusi dan satu orang lainnya menciptakan notulen hasil diskusi.
  5. Pendidik memonitor dan menawarkan instruksi pada setiap kelompok.
  6. Peserta  didik  mengetikkan  hasil  diskusi  memakai jadwal pengolah data, menyerupai Microsoft Office Word, dan menyimpannya pada satu folder.
  7. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok masing-masing.
  8. Pendidik menawarkan respon dan apresiasi untuk setiap hasil diskusi dan partisipasi aktif akseptor didik.
  9. Pendidik menawarkan kiprah sebagai tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran.

Perlu diingat bahwa jenis pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang dipakai tidak harus selalu sama dengan yang telah disebutkan. Pendidik bebas berkreasi dan berinovasi dalam memanfaatkan TIK, khususnya fitur-fitur pada portal Rumah Belajar, menyesuaikan kebutuhan dan situasi berguru akseptor didik.

Model Pembelajaran Memanfaatkan Rumah Belajar 


Fitur-fitur yang terdapat pada portal Rumah Belajar sanggup dimanfaatkan dengan memakai bermacam-macam model pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

Berikut ini beberapa model pembelajaran yang bisa diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK yang memanfaatkan fitur-fitur pada portal Rumah Belajar:

1. Project-Based Learning


Model ini merupakan model pembelajaran berbasis proyek dengan tujuan yaitu untuk menemukan solusi atas perkara yang diberikan pendidik untuk didiskusikan. Masalah-masalah yang diberikan berupa perkara yang lebih kompleks dan mengharuskan akseptor didik untuk mempunyai kemampuan analisisb yang baik.

Hasil metode pembelajaran ini sanggup dipakai sebagai salah satu portofolio pembelajaran. Sintaks atau tahapan pembelajaran untuk model pembelajaran ini kurang lebih sama dengan problem-based learning. Tahapan-tahapan pembelajaran ini dengan memanfaatkan TIK, khususnya fitur-fitur pada portal Rumah Belajar, yaitu:

a. Menyusun planning pembelajaran berbasis proyek dan menyiapkan beberapa perangkat pendukung yang harus dikerjakan oleh akseptor didik, antara lain: format planning proyek, format jadwal pelaksanaan proyek, dan format penilaian.

b. Memberikan petunjuk kepada akseptor didik ketika akan memanfaatkan sumber berguru yang tersedia di portal Rumah Belajar ketika mengerjakan kiprah proyek. Langkah-langkah berikut sanggup menjadi pola bagi Anda untuk menawarkan petunjuk kepada akseptor didik:

1) Sebelum menawarkan kiprah kepada akseptor didik untuk mencari tumpuan dari internet, ada baiknya pendidik menelusuri lebih dulu website-website yang menyediakan materi bacaan sesuai topik yang akan dipelajari. Kemudian harus dipastikan bahwa website tersebut bebas dari hal-hal negatif yang akan mengganggu konsentrasi akseptor didik ketika berselancar di dunia maya.

2) Untuk akseptor didik Sekolah Dasar, pendidik sanggup mengunduh bahan-bahan bacaan terlebih dahulu kemudian diberikan

kepada akseptor didik. Pendidik sanggup juga menawarkan alamat website pembelajaran yang sudah kondusif dari hal-hal negatif, menyerupai portal Rumah Belajar. Perlu kerjasama dengan orangtua untuk mendampingi akseptor didik ketika berinteraksi dengan dunia maya (internet).

Contoh:

Topik “wawancara”, tumpuan yang sanggup dipakai antara lain: http://video.kemdikbud.go.id/video/play/bahan-kimia-bagian-1

3) Untuk akseptor didik Sekolah Menengah, pendidik bisa menawarkan alamat-alamat website atau link url yang sudah kondusif dari hal-hal negatif. Pendidik sanggup menawarkan kiprah kepada akseptor didik untuk mengunduh materi atau media yang sesuai proyek, sebagai materi referensi.

4) Untuk proyek mata pelajaran Bahasa Indonesia perihal puisi dan prosa, selain fitur Sumber Belajar, akseptor didik sanggup diarahkan untuk membuka fitur pendukung Karya Bahasa dan Sastra.


Untuk mencari tumpuan pada fitur ini, akseptor didik diarahkan untuk masuk sebagai akseptor didik dan mencari materi sesuai dengan kategori yang tersedia, yaitu: prosa, puisi, dan referensi.


5) Untuk proyek mata pelajaran IPS dan seni budaya, selain fitur Sumber Belajar, akseptor didik sanggup diarahkan untuk membuka fitur Peta Budaya. Pilih salah satu provinsi yang akan dilihat budayanya


Selanjutnya akseptor didik sanggup diarahkan untuk menentukan konten budaya yang tersedia pada sebelah kanan halaman tampilan atau menentukan lokasi budaya yang tersedia pada sebelah kiri halaman tampilan.


Anda sanggup menciptakan petunjuk untuk akseptor didik ketika memanfaatkan sumber berguru melalui internet, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi akseptor didik.

c. Melakukan penilaian terhadap kiprah proyek akseptor didik. Pada penilaian kiprah proyek perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1) Kemampuan pengelolaan, yakni kemampuan akseptor didik dalam menentukan tema/topik yang relevan dengan bahasan materi pelajaran, mengelola waktu (tugas, materi dan aktivitas) sesuai perencanaan proyek, mencari serta menemukan informasi/produk sesuai dengan jenis kiprah proyek dan penulisan laporan.

2) Relevansi yaitu kesesuaian hasil kiprah proyek dengan materi pelajaran yang diberikan Pendidik dengan mempertimbangkan pengetahuan, perilaku dan keterampilan akseptor didik dalam pembelajaran.

3) Keaslian, yaitu produk atau hasil karya kiprah proyek yang dikerjakan akseptor didik harus merupakan hasil karyanya sendiri baik secara individu maupun kelompok.

2. Discovery-Inquiry Learning


Model ini merupakan model pembelajaran berbasis penemuan dimana akseptor didik tidak mendapatkan konsep atau materi dalam bentuk final. Peserta didik diminta untuk menemukan sendiri cara atau langkah-langkah belajarnya dalam menemukan suatu konsep.

Masalah-masalah yang diberikan biasanya berupa pembuktian. Berdasarkan mekanisme model pembelajaran Discovery-inquiry Learning yang memanfaatkan sumber Belajar, beberapa langkah yang harus dilakukan pendidik, yaitu:

a. Pendidik harus melaksanakan persiapan sebelum pembelajaran di kelas dimulai. Adapun beberapa persiapan yang harus dilakukan pendidik, sebagai berikut:

1) Memberikan pengenalan ke akseptor didik mengenai portal Rumah Belajar, pendaftaran dan pemanfaatannya. Sehingga akseptor didik sudah memahami dan bisa mengakses rumah berguru dengan baik.

2) Pendidik mengidentifikasi topik pada konten sumber berguru yang pembelajarannya sanggup dikemas dengan model pembelajaran discovery-inqury learning. Konten dari sumber berguru diubahsuaikan dengan karakteristik topik /materi pelajaran yang menuntut pembentukan ketrampilan berpikir tingkat tinggi (HOTs).

3) Pendidik merumuskan stimulus untuk diberikan kepada akseptor didik dalam mengawali/mengantar akseptor didik mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran discovery-inqury learning.

Dalam merumuskan stimulus ini Pendidik bisa memakai konten sumber belajar, baik materi atau katalog medianya untuk dikemas sesuai kebutuhan Pendidik. Apabila materi yang terdapat di sumah Belajar belum mencukupi untuk kebutuhan Pendidik dalam merumuskan stimulus, maka Pendidik sanggup mencari dari sumber lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4) Pendidik menentukan aneka sumber berguru yang tersedia di sekolah yang bisa dimanfaatkan akseptor didik dalam melaksanakan sintaks pengumpulan data sebagai materi merumuskan kesimpulan. Aneka sumber berguru ini bisa berupa buku, internet, alam/lingkungan sekitar, perpustakaan, laboratorium dsb.

5) Pendidik mengidentifikasi ketersediaan sarana prasarana TIK di sekolah (laptop, LCD, dsb) yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran.

6) Pendidik membagi kelompok akseptor didik dengan menggabungkan semua level kognitif (rendah, sedang, dan tinggi).

b. Guru mengawali dengan memberikan topik bahasan dan tujuan pembelajaran, dilanjutkan dengan pertolongan stimulus ke siswa (sintaks 1: stimulus). Kemudian mengarahkan siswa untuk berkelompok sesuai dengan pembagian kelompok yang telah disiapkan guru. Guru mengarahkan tahapan kegiatan berguru ke siswa yang meliputi:

1) Siswa membahas stimulus yang telah diberikan gurunya di masing-masing kelompok, kemudian diskusi mengidentifikasi banyak sekali persoalan/ menemukan perkara yang ada dalam materi tersebut (sintaks 2: probem statement).

2) Siswa membuatkan kiprah dalam kelompoknya untuk mengumpulkan data dan isu untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan, dari aneka sumber berguru yang tersedia di lingkungan sekolah (sintaks 3: data collection).

Siswa sanggup membaca literature (buku, internet, konten sumber Belajar), praktikum atau observasi untuk memperoleh data dan isu untuk menjawab permaslahan yang telah dirumuskan, sehingga bisa memahami konsep/materi, dan memperoleh pengetahuan yang cukup perihal topik yang sedang dipelajari.

Dalam hal ini siswa diberi keleluasaan untuk menggali lebih luas problem yang telah dibentuk berdasarkan pemahaman dari konten tersebut, melalui perngumpulan banyak sekali isu yang relevan dengan cara membaca literatur baik secara online maupun offline, mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber atau melaksanakan uji coba sendiri dan lain-lain oleh siswa.

3) Siswa mendiskusikan data/informasi yang telah diperoleh masing-masing anggota kelompok kemudian mengolah, menganalisis dan menarik kesimpulan untuk memecahkan perkara (sintaks 4: Data prossesing).

Jika terjadi kebuntuan, maka siswa aktif mengeksplorasi untukmencari alternative solusi terhadap perkara yang telah dirumuskan masing-masing kelompok. Guru memantau diskusi setiap kelompok dan menawarkan instruksi kalau diperlukan.

4) Siswa  secara  berkelompok  melakukan  pembuktian  dari pernyataan/permaslahan yang telah dirumuskan (berdasarkan hasil pengolahan isu yang telah ada) dengan cara kerja yang dirumuskan siswa, kemudian

mendokumentasikan langkah-langkah dan hasil pembuktian (sintaks 5: Verification). Kemudian mempresentasikan hasil kelompok di depan kelas dan mendengarkan masukan dari kelompok lain untuk diakomodir, kalau ada yang masih belum dipahami maka siswa aktif bertanya/mengklarifikasi ke guru sebagai Pendidik diskusi. Sebelum mempresentasikan hasil diskusi kelompok ini, siswa mengetik materi presentasi di laptop, kemudian memakai LCD proyektor dalam pemaparannya.

5) Siswa secara berkelompok melaksanakan penarikan kesimpulan

atau generalisasi berdasarkan hasil verifikasi yang telah dipresentasikan dan masukan dari kelompok lain. (sintaks 6: Generalization) Aktivitas berguru pada model pembelajaran discovery-inquiri ini mayoritas dilaksanakan oleh siswa yaitu sintaks 2 s/d sintaks 6.

c. Setelah siswa berhasil melaksanakan generalisasi atau penarikan kesimpulan dari suatu permasalahan sesuai tujuan pembelajaran, maka guru perlu melaksanakan penilaian untuk mengukur pemahaman (kompetensi pengetahuan) yang telah diperoleh siswa.

Bentuk penilaian yang diterapkan bermacam-macam sesuai karakteristik topik pembelajarannya. Dalam penilaian ini, guru sanggup memakai simulasi dan latihan dalam sumber belajar, https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/ (jika topiknya tersedia di sumber belajar).

Guru juga sanggup menyusun soal penilaian sendiri sesuai dengan kebutuhan guru, kemudian memanfaatkan aplikasi kuis online (seperti Kahoot.it dsb) sebagai variasi dalam mengkondisikan penilaian berguru yang lebih menyenangkan bagi siswa.

Demikianlah artikel yang membahas Metode dan Model Pemanfaatan Fitur Rumah Belajar KEMDIKBUD.GO.ID,  semoga bermanfaat bagi guru dan siswa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel